Pencarian Informasi

 

KAJEN – Pembangunan di Kabupaten Pekalongan tidak hanya membangun fisiknya tapi juga pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berbasis nilai-nilai seni dan budaya.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si dalam acara “Suluk Bumi Santri”. Acara dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08/2019) malam.

“Pembangunan manusia lahir dan batin. Batin manusia diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Kabupaten Pekalongan, ” ujar Bupati.

Dengan kata lain, lanjut Bupati, unsur-unsur yang merupakan materi/bahan pembangunan tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat sendiri.

“Melihat permasalahan-permasalahan yang ada saat ini, tokoh masyarakat, budayawan, dan ormas harus dapat bermitra dengan pemerintah daerah untuk menempatkan budaya sebagai ujung tombak dalam menjaga persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, jelas Bupati

“Lesbumi mempunyai potensi besar untuk berperan serta dalam pengembangan dan pelestarian nilai budaya. Dikarenakan memiliki aktivitas yang mengakar di masyarakat luas. Sehingga secara otomatis dapat merasakan getaran-getaran riil yang terjadi di masyarakat utamanya dalam memajukan kebudayaan, melestarikan tradisi, dan mengembangkan adat budaya masyarakat,” imbuhnyai.

Sementara itu, Gus Eko Ahmadi, Ketua Lesbumi PCNU Kab Pekalongan menyampaikan bahwa Kabupaten Pekalongan merupakan daerah dengan berbagai kearifan lokal yang telah eksis dengan seni dan kebudayaannya. Keragaman perilaku budaya dan lokal wisdom yang beragam menjadikan seni dan budaya Kabupaten Pekalongan yang unik menjadi menarik untuk dipelajari.

Dituturkan Gus Eko, sebagai kabupaten yang besar dengan keanekaragaman budaya yang menjadi identitas, sehingga diperlukan pemahaman seni dan budaya sebagai nilai dasar ketahanan nasional, serta sebagai pemersatu keragaman seni dan budaya bangsa.

“Seni dan budaya di Kabupaten Pekalongan menjadi pemersatu apabila kita memiliki rasa bangga terhadap seni dan budaya yang kita miliki,” katanya.

Acara yang dilaksanakan di pendopo Kecamatan Sragi, Minggu (18/08) itu dimulai dari pagi hari hingga malam yaitu sepeda santai, senam aerobik, karnaval budaya. Selanjutnya pada siang harinya pentas seni komunitas band, drumband, tari kreasi nusantara dilanjutkan sore sampai malam hadroh sholawat, tari kipas, tari dendang kota santri, pencak silat tapak suci dan sintren serta sarasehan.

Saat sarasehan, Gus Eko menjelaskan bahwa, berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia umumnya dan Kabupaten Pekalongan khususnya ini sangatlah kompleks. Salah satunya karena lemahnya pemahaman nilai-nilai seni dan budaya yang terkandung di dalam pembangunan itu seperti budaya ramah tamah, gotong royong, musyawarah mufakat sudah luntur dan tergeser.

“Bahkan ada sebagian yang mulai menghilang oleh derasnya laju globalisasi, dan masuknya budaya luar yang telah merusak moral dan etika yang akhirnya menimbulkan degradasi budaya,” paparnya.

Menurut Gus Eko, upaya pengembangan dan pelestarian budaya daerah dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah khususnya bidang kebudayaan.(red)