Pembuatan kompor sampah injeksi ini memanfaatkan sampah organik yang diolah menjadi gas metan (biogas). Biogas tersebut dijadikan sebagai bahan bakarnya.
"Saya membuat kompor sampah ini dari tahun 2018. Ide awal membuat kompor ini karena melihat sampah-sampah yang menumpuk di jalan raya.
Kemudian, pembuangan sampah yang dilakukan setiap hari dengan volume semakin meningkat tanpa adanya pengolahan sampah yang tepat dan hanya menggunakan tempat pembuangan akhir, maka akan mengakibatkan pencemaran lingkungan dan menjadi sumber penyakit. Oleh karenanya, ia membuat biogas dari sampah-sampah tersebut," kata Agus di rumahnya, Senin (2/9/2019).
Menurutnya tujuan dari pembuatan ini untuk mengolah sampah organik untuk dimafaatkan menjadi bahan bakar alternatif , pupuk organik, dan pakan ternak.
Selain itu, pembuatan biogas ini memanfaatkan kotoran organik, baik itu kotoran hewan, sampah sayuran, dan tumbuhan dengan memanfaatkan bakteri yang terdapat dalam kotoran tersebut untuk proses fermentasi yang menghasilkan semacam gas.
"Biogas yang dihasilkan bergantung dari jumlah sampah yang diolah, secara otomatis semakin banyak sampah, kita mendapatkan energi alternatif juga melimpah," ujarnya.
Agus yang setiap hari sebagai guru teknik sepeda motor di SMK 1 Sragi ini menjelaskan bahwa untuk membuat biogas diperlukan adanya diegester.
Diegester adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan biogas dengan proses fermentasi sampah organik secara an aerob atau kedap udara.
"Pertama memasukan kotoran hewan dicampur air dengan perbandingan 1:1, dan setiap hari memasukan sampah organik atau sampah sisa dapur. Biogas akan keluar stelah 14 hari pada proses awal dan setelah itu biogas akan dihasilkan setiap hari, dengan catatan sampah juga dimasukan setiap hari," jelasnya.
Ia juga menceritakan saat ini ia membuat diegester dengan kapasitas 200 liter. Tapi rencananya akhir tahun 2019 ini akan membuat 4 ribu liter dan bahan-bahannya terintergrasi dengan septick tank.
"Biogas akan dimasukkan di sebuah tandon, tandon tersebut berfungsi untuk menampung gas yang dihasilkan dari diegester, tampungan harus rapat, sehingga tidak ada gas yang bocor," tandasnya.
Agus mengatakan yang menjadi permasalahan adalah tekanan biogas ini lebih kecil dari LPG, sehingga walapun didalam penampungan biogas masih ada, biogas tidak mampu keluar dan kompor akan mati.
Oleh sebab itu, ia membuat injeksi biogas dengan menggunakan areator aquarium.
"Aerator dimodifikasi bagian input dan out put aliran udara. Bagian input yang seharusnya mengambil udara dari luar dimodifikasi salurannya, disambung dengan slang akuarium dan dihubungkan dengan saluran biogas dari tampungan. Saluran output aerator dihubungkan ke kompor gas. Dengan alat injektor nyala api lebih konstan dan bisa bertahan lama walapun sampai tampungan kempes atau mengecil, asalkan masih ada biogas kompor masih bisa menyala.
Untuk menjaga tetap menyala saya mencoba dengan memberikan beban diatas tampungan dan biogas ini bisa bertahan hanya 15 menit," Imbuhnya.
Biogas ini masih digunakan untuk kalangan sendiri, namun ia mempunyai harapan kompor biogas ini bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.
Agus juga menambahkan manfaat dari kompor injeksi ini yang pertama proses penggunaan bahan bakar mudah. Karena menggunakan sampah organik.
"Selain itu dapat menekan biaya rumah tangga dan dapat mengurangi sampah di Kabupaten Pekalongan. Jika alat ini bisa diproduksi massal, minimal setiap lingkungan ada. Maka sampah di Indonesia bisa berkurang," katanya.
Berkat inovasinya ini, Agus berhasil mendapatkan juara 2 lomba krenova tingkat Kabupaten Pekalongan. (didik /dinkominfo kab.pekalongan)