Berita terbaru dari PPID Kabupaten Pekalongan
Berita terbaru dari PPID Kabupaten Pekalongan
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan berkomitmen mendorong peningkatan kesejahteraan, pengakuan, dan kesetaraan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kabupaten Pekalongan di Lapangan Belakang Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Sabtu (10/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sukirman menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pendidik PAUD yang selama ini berperan penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak sekaligus meletakkan fondasi pendidikan bagi generasi penerus.
Menurutnya, mendidik anak usia dini membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pengabdian yang tinggi. Peran pendidik PAUD tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan dasar, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membangun kebiasaan positif sejak dini.
Sukirman menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan pendidik PAUD perlu terus menjadi perhatian bersama. Pemerintah Kabupaten Pekalongan, menurutnya, akan berupaya menyampaikan aspirasi para pendidik kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat melalui jalur komunikasi dan koordinasi yang tersedia.
Ia mengakui bahwa dukungan pemerintah, antara lain melalui bantuan operasional dan pemberian insentif, telah diberikan. Namun, besaran insentif yang diterima sebagian pendidik PAUD, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar Rp300 ribu per bulan, masih perlu mendapat perhatian agar sebanding dengan pengabdian dan tanggung jawab mereka.
“Ke depan, kami akan terus berupaya mendorong peningkatan dukungan dan kesejahteraan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD,” ujar Sukirman.
Sementara itu, Bunda PAUD Kabupaten Pekalongan, Dr. Galuh Kirana Dwi Areni, S.S., M.Pd., menekankan pentingnya peran pendidik PAUD dalam membangun karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, berbagai aktivitas pembelajaran, seperti menggambar, mewarnai, menyusun balok, belajar membaca, dan bermain, memiliki nilai pendidikan yang lebih luas daripada sekadar melatih pengetahuan dan keterampilan.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak belajar mengembangkan keberanian, kreativitas, kemandirian, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan. Proses pembelajaran itu juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan membentuk kebiasaan positif yang akan menjadi bekal bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
“Bapak dan Ibu pendidik tidak sekadar mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan keberanian, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membentuk kebiasaan positif. Semua itu merupakan fondasi karakter yang akan memengaruhi masa depan anak-anak kita,” tutur Galuh.
Ia mengajak seluruh pendidik PAUD untuk terus menjalankan pengabdian dengan penuh semangat dan tidak berkecil hati menghadapi berbagai tantangan. Ketulusan, keikhlasan, dan konsistensi dalam mendampingi anak, menurutnya, merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan generasi masa depan Kabupaten Pekalongan.
Sejalan dengan tema HUT ke-21 HIMPAUDI, “Nyalakan Asa”, Galuh juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan perangkat daerah terkait, untuk memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan serta pengembangan profesional pendidik dan tenaga kependidikan PAUD.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi pendidik dan dukungan kesejahteraan yang memadai. Dengan demikian, para pendidik dapat menjalankan tugas secara optimal dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.
Puncak peringatan HUT ke-21 HIMPAUDI Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat apresiasi terhadap pengabdian para pendidik PAUD sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Melalui dukungan yang berkelanjutan, para pendidik PAUD diharapkan semakin berdaya dalam menjalankan perannya sebagai peletak fondasi karakter dan perkembangan anak, guna mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas menuju Kabupaten Pekalongan yang lebih maju dan sejahtera.
Sabtu, 10 Oktober 2026
SRAGI – Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus mendorong peningkatan pelayanan kepada masyarakat, termasuk kemudahan pembayaran pajak kendaraan bermotor melalui penguatan sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas akses pembayaran melalui agen resmi agar pelayanan dapat menjangkau masyarakat hingga ke desa-desa.
Hal tersebut disampaikan Plt. Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., dalam kegiatan sosialisasi di Aula Balai Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi, Jumat (9/10/2026).
Sukirman menyampaikan bahwa kemudahan akses pembayaran pajak merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mengoptimalkan pendapatan daerah.
Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta seluruh perangkat terkait perlu terus diperkuat agar program tersebut berjalan efektif dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia menegaskan, optimalisasi pendapatan daerah harus diiringi dengan komitmen untuk memastikan setiap rupiah yang diperoleh dapat dimanfaatkan bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
“Ini merupakan salah satu bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat untuk mempermudah pembayaran pajak kendaraan bermotor. Kami terus mendorong agar sinergi ini berjalan dengan baik, melibatkan seluruh perangkat daerah yang ada di Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Sukirman juga mengajak seluruh pihak untuk terus mengintensifkan sosialisasi agar masyarakat semakin memahami dan memanfaatkan layanan yang tersedia. Peserta kegiatan diharapkan dapat turut menyebarluaskan informasi kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah, Muhamad Masrofi, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa perluasan layanan melalui agen pembayaran menjadi salah satu alternatif untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang belum memiliki unit pelayanan.
Menurutnya, keberadaan agen dapat membantu masyarakat mengakses layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor dengan lebih mudah tanpa harus bergantung pada unit pelayanan yang tersedia.
Ia menambahkan, pembentukan agen resmi perlu dilakukan dengan memperhatikan ketentuan dan legalitas yang berlaku. Hal ini penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak. Melalui pengembangan sistem keagenan tersebut, diharapkan jangkauan pelayanan semakin luas, termasuk di desa-desa yang belum memiliki fasilitas pelayanan sejenis.
Dengan sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan pihak terkait, pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor diharapkan semakin mudah dijangkau, sekaligus mendukung optimalisasi pendapatan daerah untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Jumat, 9 Oktober 2026
KEDUNGWUNI – Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui inovasi pemasaran dan penyediaan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya dengan menghadirkan beragam jajanan tradisional hingga kuliner kekinian di Gedung C UMKM Center Kabupaten Pekalongan, Jumat (9/10/2026).
Plt. Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., menyampaikan bahwa UMKM Center kini tidak hanya menjadi tempat untuk mengenalkan jajanan tradisional, tetapi juga memberikan ruang bagi produk-produk kekinian yang diminati generasi milenial dan Gen Z.
Berbagai pilihan kuliner ditawarkan, mulai dari jajanan jadul khas daerah hingga produk modern seperti dimsum, aneka kue, cake ulang tahun, dan salad buah dengan beragam varian rasa. Produk-produk tersebut diharapkan mampu menarik minat masyarakat, khususnya kalangan anak muda.
“Sekarang ada terobosan baru dengan hadirnya jajanan modern, jajanan kekinian yang digemari generasi milenial dan Gen Z. Berbagai produk tersebut dikoordinasikan dalam satu tempat, yaitu UMKM Center Kabupaten Pekalongan,” ujar Sukirman.
Ia menjelaskan, UMKM Center dibuka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk berkunjung, menikmati aneka kuliner, sekaligus bersantai bersama keluarga maupun teman.
Menurutnya, produk UMKM lokal memiliki kualitas dan cita rasa yang mampu bersaing dengan produk-produk yang telah dikenal luas di pasaran. Selain itu, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Sukirman mengajak masyarakat untuk turut meramaikan UMKM Center sekaligus mendukung keberlangsungan usaha para pelaku UMKM di Kabupaten Pekalongan.
“Kami mengajak masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, untuk datang dan menikmati berbagai pilihan jajanan tradisional maupun kekinian. Mari kita dukung produk UMKM lokal agar semakin berkembang,” ajaknya.
Ia berharap, keberadaan UMKM Center dapat menjadi salah satu sarana promosi dan pemasaran yang efektif bagi pelaku usaha lokal. Terlebih, melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event, UMKM Center diharapkan semakin ramai dikunjungi dan mampu meningkatkan penjualan produk-produk UMKM.
Dengan semakin dikenalnya produk lokal oleh masyarakat, para pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas pasar, meningkatkan daya saing, serta mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Jumat, 9 Oktober 2026
Kajen - Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan digelar di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Kamis (8/10/2026). Pelaksanaan tersebut menjadi bagian dari uji coba yang dilakukan untuk melihat efektivitas sistem penyajian makanan MBG di sekolah.
Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, mengatakan pihaknya siap menjalankan uji coba tersebut sesuai arahan BGN. Menurutnya, respons siswa terhadap model prasmanan sejauh ini cukup positif.
“Kalau kesiapan, yang jelas selama BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, ya kami pasti siap,” kata Andung.
Ia menyebut siswa cenderung lebih menyukai sistem prasmanan karena makanan dapat disantap dalam kondisi hangat dan porsi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
“Yang kedua, respons anak. Sejauh ini memang lebih menyukai yang prasmanan. Karena mungkin masih hangat, terus kemudian porsinya bisa disesuaikan,” ujarnya.
Andung menjelaskan, uji coba tersebut telah berlangsung sejak Senin dan pada Kamis memasuki hari keempat. Evaluasi terhadap pelaksanaan, termasuk kendala yang ditemukan, akan dilakukan hingga pekan berikutnya sebelum hasilnya dilaporkan kepada BGN.
“Kemudian setelah nanti kita laporkan ke BGN, BGN memutuskan apakah mau seperti ini atau kembali ke metode lama, itu kami kembalikan lagi ke BGN,” katanya.
Menurutnya, sistem prasmanan juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan dalam pelaksanaan MBG. Untuk Kabupaten Pekalongan, SMP Negeri 2 Karanganyar menjadi sekolah yang ditunjuk dalam piloting tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, menilai pelaksanaan MBG dengan sistem prasmanan mendapat respons positif dari siswa.
“Jadi dengan adanya MBG prasmanan ini, luar biasa, artinya luar biasa itu, betul-betul anak-anak, kita juga melihat sendiri ya, mengambil menu MBG masih hangat, masih fresh,” kata Kholid.
Ia menyebut partisipasi siswa terlihat tinggi dan makanan yang disediakan hampir seluruhnya habis. Kholid berharap sistem serupa dapat diterapkan di sekolah lain dengan koordinasi yang baik antara satuan pendidikan dan SPPG.
“Saya melihat sendiri tadi ya, itu antusiasnya lebih-lebih daripada yang menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencoba menu MBG yang disajikan. Ia mengatakan makanan, mulai dari nasi, sayur hingga telur, masih dalam kondisi hangat.
“Lalu tadi kami mencoba menu makanannya. Kita pegang hangat semua, dari nasinya, dari sayurnya, dari telurnya. Rasanya sudah seperti kita makan di orang tua memasak atau yang ada di rumah makan,” katanya.
Respons positif juga disampaikan salah seorang siswa. Saat ditanya mengenai perbandingan makan menggunakan ompreng dan prasmanan, siswa tersebut memilih sistem prasmanan.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi.
Ketika ditanya alasannya, Novi mengatakan makanan yang disajikan melalui sistem prasmanan terasa lebih segar dan nasinya lebih hangat.
“Yang prasmanan,” katanya saat kembali ditanya mengenai pilihan antara sistem ompreng dan prasmanan.
Siswa SMPN 2 Karanganyar Lebih Suka MBG Prasmanan, Nasi Masih Hangat saat Disantap
Kajen – Pengalaman menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, terasa berbeda. Melalui sistem prasmanan, siswa bisa mengambil makanan secara langsung dengan kondisi yang masih hangat. Metode ini pun mendapat sambutan positif dari para siswa.
Salah seorang siswa, Novi, mengaku lebih menyukai sistem prasmanan dibandingkan penyajian menggunakan ompreng. Menurutnya, makanan terasa lebih segar, terutama karena nasi masih hangat saat diambil.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi saat ditanya mengenai pilihannya antara sistem prasmanan dan ompreng.
Respons tersebut sejalan dengan pengamatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, yang melihat langsung antusiasme siswa saat mengambil makanan.
Menurut Kholid, siswa terlihat bersemangat menikmati menu MBG yang disajikan. Bahkan, makanan yang tersedia hampir seluruhnya habis.
“Saya melihat sendiri tadi, antusiasmenya lebih tinggi dibandingkan saat menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencicipi menu yang disediakan, mulai dari nasi, sayur, hingga telur. Ia menilai makanan tersebut masih dalam kondisi hangat saat disajikan kepada siswa.
Ia berharap sistem prasmanan bisa menjadi alternatif penyajian MBG di sekolah lain. Meski demikian, penerapannya perlu didukung koordinasi yang baik antara pihak sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sementara itu, mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, menjelaskan bahwa penerapan sistem prasmanan di SMP Negeri 2 Karanganyar masih dalam tahap uji coba.
Uji coba yang dimulai sejak Senin tersebut memasuki hari keempat pada Kamis (8/10/2026). Selama pelaksanaan, pihaknya melakukan evaluasi terhadap respons siswa maupun kendala yang muncul di lapangan.
Andung mengatakan hasil evaluasi akan dilaporkan kepada BGN untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan metode penyajian MBG selanjutnya.
“Kalau BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, kami pasti siap,” katanya.
Ia menambahkan, sistem prasmanan diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan MBG, termasuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan.
Melalui uji coba ini, pengalaman siswa saat menikmati makanan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam evaluasi. Hasilnya diharapkan dapat membantu menentukan metode penyajian yang tepat agar program MBG berjalan optimal di sekolah.
Jumat, 9 Oktober 2026
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendorong penguatan peran Relawan Sapa dan Satuan Tugas Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas RPPA) dalam mencegah serta menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat kecamatan.
Upaya tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (P3A dan PPKB) Kabupaten Pekalongan, Tuti Haryanti, S.STP., M.Si., saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Relawan Sapa di Ruang Indraprasta Baperrida Kabupaten Pekalongan, Rabu (7/10/2026).
Tuti mengatakan, keberadaan relawan dan Satgas RPPA menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pelayanan perlindungan perempuan dan anak. Dengan dukungan berbagai unsur di masyarakat, upaya pencegahan maupun penanganan kasus diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
Ia mengungkapkan, seluruh 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan telah membentuk Satgas RPPA dan memiliki surat keputusan pembentukan. Selanjutnya, kelembagaan tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta koordinasi lintas sektor.
“Bapak dan Ibu merupakan perpanjangan tangan dinas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, sinergi dan kemitraan dengan berbagai lembaga di wilayah masing-masing sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan, PKK, Karang Taruna, pekerja sosial, unsur pendidikan, KUA, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar korban mendapatkan penanganan dan pendampingan sesuai kebutuhan.
Selain memperkuat penanganan kasus, Tuti meminta para relawan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan. Ia menilai, kekerasan psikis yang dilakukan melalui perkataan merendahkan atau tindakan yang menyakiti perasaan sering kali dianggap sebagai hal biasa, padahal perlu mendapat perhatian serius.
Pola pengasuhan anak dalam keluarga juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diedukasi agar tidak mengandung unsur kekerasan.
“Kita tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga ingin dibantu dalam upaya pencegahan. Lebih baik kita mencegah daripada menunggu sampai terjadi korban,” tegasnya.
Ia berharap, pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan bimbingan teknis dapat diterapkan oleh para relawan di wilayah masing-masing dan diteruskan kepada anggota satgas lainnya. Edukasi juga diharapkan dapat disampaikan melalui kegiatan organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan berbagai aktivitas warga.
Melalui penguatan peran Relawan Sapa dan Satgas RPPA, Pemkab Pekalongan berkomitmen mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan perempuan dan anak.
Rabu, 7 Oktober 2026
Kajen - Suasana berbeda terasa di halaman Pendopo Rumah Dinas Bupati Pekalongan, Senin malam (5/10/2026). Ribuan masyarakat berkumpul untuk nonton bareng (nobar) final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia melawan Thailand.
Sejak sebelum pertandingan dimulai, suasana sudah terasa meriah. Plt. Bupati Pekalongan H. Sukirman, S.S., M.S., bahkan sempat melontarkan candaan saat hendak memutar cuplikan gol Ole Romeny. Namun, video yang muncul justru rekaman dirinya saat mengikuti lomba sepak bola mini pada Agustus lalu.
“Baiklah, mari kita tonton bersama pertandingan kali ini. Semoga Indonesia mendapatkan hasil terbaik. Ada pendukung Thailand di sini, kalau saya tetap Argentina,” canda Sukirman yang langsung disambut tawa masyarakat.
Seperti nobar sebelumnya, Sukirman memilih duduk lesehan dan berbaur bersama masyarakat. Mereka bersama-sama memberikan dukungan kepada Timnas Indonesia yang memburu gelar juara ASEAN setelah terakhir kali meraihnya pada 1991.
Pertandingan berlangsung ketat. Babak pertama berakhir tanpa gol. Memasuki babak kedua, jual beli serangan terjadi. Indonesia akhirnya mendapat keuntungan pada menit ke-81 setelah Ole Romeny dilanggar Nicholas Mickelson di dekat kotak penalti. Kartu kuning kedua membuat pemain Thailand tersebut harus mandi lebih awal.
Unggul jumlah pemain, Indonesia membuka keunggulan pada menit ke-84 melalui Dean James. Namun, keunggulan itu hanya bertahan tiga menit setelah Thailand menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron pada menit ke-87.
Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir dan pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Thailand kembali membuat suporter Indonesia terdiam pada menit ke-111 setelah Peeradol Chamratsamee memanfaatkan kesalahan Elkan Baggott. Namun, Baggott membayar kesalahannya dengan mencetak gol pada menit ke-116 melalui umpan cut back Rizky Ridho, yang diawali intersep Egy Maulana Vikri.
Skor 2-2 bertahan hingga perpanjangan waktu berakhir. Pertandingan pun harus ditentukan lewat adu penalti.
Drama akhirnya berpihak kepada Indonesia. Seluruh eksekutor Indonesia sukses menjalankan tugasnya. Penjaga gawang Emil Audero juga tampil gemilang dengan menggagalkan penalti Nattapong Satriya, sementara tendangan Sarach Yooyen membentur mistar.
Indonesia pun memastikan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 untuk pertama kalinya sekaligus kembali menjadi raja Asia Tenggara setelah 35 tahun puasa gelar.
Kemenangan itu disambut tangis haru dan kebahagiaan para suporter di halaman pendopo. Majid, warga Wonopringgo, mengaku bangga bisa menyaksikan langsung momen bersejarah tersebut.
“Senang dong, Mas, karena Timnas menang. Terima kasih Pemerintah Kabupaten Pekalongan sudah menggelar nobar. Ditunggu nobar-nobar selanjutnya,” ujarnya.
Selasa, 6 Oktober 2026
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan berkomitmen mendorong peningkatan kesejahteraan, pengakuan, dan kesetaraan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kabupaten Pekalongan di Lapangan Belakang Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Sabtu (10/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Sukirman menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pendidik PAUD yang selama ini berperan penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak sekaligus meletakkan fondasi pendidikan bagi generasi penerus.
Menurutnya, mendidik anak usia dini membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pengabdian yang tinggi. Peran pendidik PAUD tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan dasar, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membangun kebiasaan positif sejak dini.
Sukirman menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan pendidik PAUD perlu terus menjadi perhatian bersama. Pemerintah Kabupaten Pekalongan, menurutnya, akan berupaya menyampaikan aspirasi para pendidik kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat melalui jalur komunikasi dan koordinasi yang tersedia.
Ia mengakui bahwa dukungan pemerintah, antara lain melalui bantuan operasional dan pemberian insentif, telah diberikan. Namun, besaran insentif yang diterima sebagian pendidik PAUD, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar Rp300 ribu per bulan, masih perlu mendapat perhatian agar sebanding dengan pengabdian dan tanggung jawab mereka.
“Ke depan, kami akan terus berupaya mendorong peningkatan dukungan dan kesejahteraan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD,” ujar Sukirman.
Sementara itu, Bunda PAUD Kabupaten Pekalongan, Dr. Galuh Kirana Dwi Areni, S.S., M.Pd., menekankan pentingnya peran pendidik PAUD dalam membangun karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, berbagai aktivitas pembelajaran, seperti menggambar, mewarnai, menyusun balok, belajar membaca, dan bermain, memiliki nilai pendidikan yang lebih luas daripada sekadar melatih pengetahuan dan keterampilan.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak belajar mengembangkan keberanian, kreativitas, kemandirian, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan. Proses pembelajaran itu juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan membentuk kebiasaan positif yang akan menjadi bekal bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
“Bapak dan Ibu pendidik tidak sekadar mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan keberanian, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membentuk kebiasaan positif. Semua itu merupakan fondasi karakter yang akan memengaruhi masa depan anak-anak kita,” tutur Galuh.
Ia mengajak seluruh pendidik PAUD untuk terus menjalankan pengabdian dengan penuh semangat dan tidak berkecil hati menghadapi berbagai tantangan. Ketulusan, keikhlasan, dan konsistensi dalam mendampingi anak, menurutnya, merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan generasi masa depan Kabupaten Pekalongan.
Sejalan dengan tema HUT ke-21 HIMPAUDI, “Nyalakan Asa”, Galuh juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan perangkat daerah terkait, untuk memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan serta pengembangan profesional pendidik dan tenaga kependidikan PAUD.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi pendidik dan dukungan kesejahteraan yang memadai. Dengan demikian, para pendidik dapat menjalankan tugas secara optimal dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.
Puncak peringatan HUT ke-21 HIMPAUDI Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat apresiasi terhadap pengabdian para pendidik PAUD sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Melalui dukungan yang berkelanjutan, para pendidik PAUD diharapkan semakin berdaya dalam menjalankan perannya sebagai peletak fondasi karakter dan perkembangan anak, guna mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas menuju Kabupaten Pekalongan yang lebih maju dan sejahtera.
Sabtu, 10 Oktober 2026
SRAGI – Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus mendorong peningkatan pelayanan kepada masyarakat, termasuk kemudahan pembayaran pajak kendaraan bermotor melalui penguatan sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas akses pembayaran melalui agen resmi agar pelayanan dapat menjangkau masyarakat hingga ke desa-desa.
Hal tersebut disampaikan Plt. Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., dalam kegiatan sosialisasi di Aula Balai Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi, Jumat (9/10/2026).
Sukirman menyampaikan bahwa kemudahan akses pembayaran pajak merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mengoptimalkan pendapatan daerah.
Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta seluruh perangkat terkait perlu terus diperkuat agar program tersebut berjalan efektif dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia menegaskan, optimalisasi pendapatan daerah harus diiringi dengan komitmen untuk memastikan setiap rupiah yang diperoleh dapat dimanfaatkan bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
“Ini merupakan salah satu bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat untuk mempermudah pembayaran pajak kendaraan bermotor. Kami terus mendorong agar sinergi ini berjalan dengan baik, melibatkan seluruh perangkat daerah yang ada di Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Sukirman juga mengajak seluruh pihak untuk terus mengintensifkan sosialisasi agar masyarakat semakin memahami dan memanfaatkan layanan yang tersedia. Peserta kegiatan diharapkan dapat turut menyebarluaskan informasi kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah, Muhamad Masrofi, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa perluasan layanan melalui agen pembayaran menjadi salah satu alternatif untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang belum memiliki unit pelayanan.
Menurutnya, keberadaan agen dapat membantu masyarakat mengakses layanan pembayaran pajak kendaraan bermotor dengan lebih mudah tanpa harus bergantung pada unit pelayanan yang tersedia.
Ia menambahkan, pembentukan agen resmi perlu dilakukan dengan memperhatikan ketentuan dan legalitas yang berlaku. Hal ini penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak. Melalui pengembangan sistem keagenan tersebut, diharapkan jangkauan pelayanan semakin luas, termasuk di desa-desa yang belum memiliki fasilitas pelayanan sejenis.
Dengan sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan pihak terkait, pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor diharapkan semakin mudah dijangkau, sekaligus mendukung optimalisasi pendapatan daerah untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Jumat, 9 Oktober 2026
KEDUNGWUNI – Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui inovasi pemasaran dan penyediaan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya dengan menghadirkan beragam jajanan tradisional hingga kuliner kekinian di Gedung C UMKM Center Kabupaten Pekalongan, Jumat (9/10/2026).
Plt. Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., menyampaikan bahwa UMKM Center kini tidak hanya menjadi tempat untuk mengenalkan jajanan tradisional, tetapi juga memberikan ruang bagi produk-produk kekinian yang diminati generasi milenial dan Gen Z.
Berbagai pilihan kuliner ditawarkan, mulai dari jajanan jadul khas daerah hingga produk modern seperti dimsum, aneka kue, cake ulang tahun, dan salad buah dengan beragam varian rasa. Produk-produk tersebut diharapkan mampu menarik minat masyarakat, khususnya kalangan anak muda.
“Sekarang ada terobosan baru dengan hadirnya jajanan modern, jajanan kekinian yang digemari generasi milenial dan Gen Z. Berbagai produk tersebut dikoordinasikan dalam satu tempat, yaitu UMKM Center Kabupaten Pekalongan,” ujar Sukirman.
Ia menjelaskan, UMKM Center dibuka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk berkunjung, menikmati aneka kuliner, sekaligus bersantai bersama keluarga maupun teman.
Menurutnya, produk UMKM lokal memiliki kualitas dan cita rasa yang mampu bersaing dengan produk-produk yang telah dikenal luas di pasaran. Selain itu, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Sukirman mengajak masyarakat untuk turut meramaikan UMKM Center sekaligus mendukung keberlangsungan usaha para pelaku UMKM di Kabupaten Pekalongan.
“Kami mengajak masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, untuk datang dan menikmati berbagai pilihan jajanan tradisional maupun kekinian. Mari kita dukung produk UMKM lokal agar semakin berkembang,” ajaknya.
Ia berharap, keberadaan UMKM Center dapat menjadi salah satu sarana promosi dan pemasaran yang efektif bagi pelaku usaha lokal. Terlebih, melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event, UMKM Center diharapkan semakin ramai dikunjungi dan mampu meningkatkan penjualan produk-produk UMKM.
Dengan semakin dikenalnya produk lokal oleh masyarakat, para pelaku UMKM diharapkan dapat memperluas pasar, meningkatkan daya saing, serta mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Jumat, 9 Oktober 2026
Kajen - Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan digelar di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Kamis (8/10/2026). Pelaksanaan tersebut menjadi bagian dari uji coba yang dilakukan untuk melihat efektivitas sistem penyajian makanan MBG di sekolah.
Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, mengatakan pihaknya siap menjalankan uji coba tersebut sesuai arahan BGN. Menurutnya, respons siswa terhadap model prasmanan sejauh ini cukup positif.
“Kalau kesiapan, yang jelas selama BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, ya kami pasti siap,” kata Andung.
Ia menyebut siswa cenderung lebih menyukai sistem prasmanan karena makanan dapat disantap dalam kondisi hangat dan porsi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
“Yang kedua, respons anak. Sejauh ini memang lebih menyukai yang prasmanan. Karena mungkin masih hangat, terus kemudian porsinya bisa disesuaikan,” ujarnya.
Andung menjelaskan, uji coba tersebut telah berlangsung sejak Senin dan pada Kamis memasuki hari keempat. Evaluasi terhadap pelaksanaan, termasuk kendala yang ditemukan, akan dilakukan hingga pekan berikutnya sebelum hasilnya dilaporkan kepada BGN.
“Kemudian setelah nanti kita laporkan ke BGN, BGN memutuskan apakah mau seperti ini atau kembali ke metode lama, itu kami kembalikan lagi ke BGN,” katanya.
Menurutnya, sistem prasmanan juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan dalam pelaksanaan MBG. Untuk Kabupaten Pekalongan, SMP Negeri 2 Karanganyar menjadi sekolah yang ditunjuk dalam piloting tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, menilai pelaksanaan MBG dengan sistem prasmanan mendapat respons positif dari siswa.
“Jadi dengan adanya MBG prasmanan ini, luar biasa, artinya luar biasa itu, betul-betul anak-anak, kita juga melihat sendiri ya, mengambil menu MBG masih hangat, masih fresh,” kata Kholid.
Ia menyebut partisipasi siswa terlihat tinggi dan makanan yang disediakan hampir seluruhnya habis. Kholid berharap sistem serupa dapat diterapkan di sekolah lain dengan koordinasi yang baik antara satuan pendidikan dan SPPG.
“Saya melihat sendiri tadi ya, itu antusiasnya lebih-lebih daripada yang menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencoba menu MBG yang disajikan. Ia mengatakan makanan, mulai dari nasi, sayur hingga telur, masih dalam kondisi hangat.
“Lalu tadi kami mencoba menu makanannya. Kita pegang hangat semua, dari nasinya, dari sayurnya, dari telurnya. Rasanya sudah seperti kita makan di orang tua memasak atau yang ada di rumah makan,” katanya.
Respons positif juga disampaikan salah seorang siswa. Saat ditanya mengenai perbandingan makan menggunakan ompreng dan prasmanan, siswa tersebut memilih sistem prasmanan.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi.
Ketika ditanya alasannya, Novi mengatakan makanan yang disajikan melalui sistem prasmanan terasa lebih segar dan nasinya lebih hangat.
“Yang prasmanan,” katanya saat kembali ditanya mengenai pilihan antara sistem ompreng dan prasmanan.
Siswa SMPN 2 Karanganyar Lebih Suka MBG Prasmanan, Nasi Masih Hangat saat Disantap
Kajen – Pengalaman menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, terasa berbeda. Melalui sistem prasmanan, siswa bisa mengambil makanan secara langsung dengan kondisi yang masih hangat. Metode ini pun mendapat sambutan positif dari para siswa.
Salah seorang siswa, Novi, mengaku lebih menyukai sistem prasmanan dibandingkan penyajian menggunakan ompreng. Menurutnya, makanan terasa lebih segar, terutama karena nasi masih hangat saat diambil.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi saat ditanya mengenai pilihannya antara sistem prasmanan dan ompreng.
Respons tersebut sejalan dengan pengamatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, yang melihat langsung antusiasme siswa saat mengambil makanan.
Menurut Kholid, siswa terlihat bersemangat menikmati menu MBG yang disajikan. Bahkan, makanan yang tersedia hampir seluruhnya habis.
“Saya melihat sendiri tadi, antusiasmenya lebih tinggi dibandingkan saat menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencicipi menu yang disediakan, mulai dari nasi, sayur, hingga telur. Ia menilai makanan tersebut masih dalam kondisi hangat saat disajikan kepada siswa.
Ia berharap sistem prasmanan bisa menjadi alternatif penyajian MBG di sekolah lain. Meski demikian, penerapannya perlu didukung koordinasi yang baik antara pihak sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sementara itu, mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, menjelaskan bahwa penerapan sistem prasmanan di SMP Negeri 2 Karanganyar masih dalam tahap uji coba.
Uji coba yang dimulai sejak Senin tersebut memasuki hari keempat pada Kamis (8/10/2026). Selama pelaksanaan, pihaknya melakukan evaluasi terhadap respons siswa maupun kendala yang muncul di lapangan.
Andung mengatakan hasil evaluasi akan dilaporkan kepada BGN untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan metode penyajian MBG selanjutnya.
“Kalau BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, kami pasti siap,” katanya.
Ia menambahkan, sistem prasmanan diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan MBG, termasuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan.
Melalui uji coba ini, pengalaman siswa saat menikmati makanan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam evaluasi. Hasilnya diharapkan dapat membantu menentukan metode penyajian yang tepat agar program MBG berjalan optimal di sekolah.
Jumat, 9 Oktober 2026
KAJEN – Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendorong penguatan peran Relawan Sapa dan Satuan Tugas Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas RPPA) dalam mencegah serta menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat kecamatan.
Upaya tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (P3A dan PPKB) Kabupaten Pekalongan, Tuti Haryanti, S.STP., M.Si., saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Relawan Sapa di Ruang Indraprasta Baperrida Kabupaten Pekalongan, Rabu (7/10/2026).
Tuti mengatakan, keberadaan relawan dan Satgas RPPA menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pelayanan perlindungan perempuan dan anak. Dengan dukungan berbagai unsur di masyarakat, upaya pencegahan maupun penanganan kasus diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
Ia mengungkapkan, seluruh 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan telah membentuk Satgas RPPA dan memiliki surat keputusan pembentukan. Selanjutnya, kelembagaan tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta koordinasi lintas sektor.
“Bapak dan Ibu merupakan perpanjangan tangan dinas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, sinergi dan kemitraan dengan berbagai lembaga di wilayah masing-masing sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan, PKK, Karang Taruna, pekerja sosial, unsur pendidikan, KUA, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar korban mendapatkan penanganan dan pendampingan sesuai kebutuhan.
Selain memperkuat penanganan kasus, Tuti meminta para relawan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan. Ia menilai, kekerasan psikis yang dilakukan melalui perkataan merendahkan atau tindakan yang menyakiti perasaan sering kali dianggap sebagai hal biasa, padahal perlu mendapat perhatian serius.
Pola pengasuhan anak dalam keluarga juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diedukasi agar tidak mengandung unsur kekerasan.
“Kita tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga ingin dibantu dalam upaya pencegahan. Lebih baik kita mencegah daripada menunggu sampai terjadi korban,” tegasnya.
Ia berharap, pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan bimbingan teknis dapat diterapkan oleh para relawan di wilayah masing-masing dan diteruskan kepada anggota satgas lainnya. Edukasi juga diharapkan dapat disampaikan melalui kegiatan organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan berbagai aktivitas warga.
Melalui penguatan peran Relawan Sapa dan Satgas RPPA, Pemkab Pekalongan berkomitmen mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan perempuan dan anak.
Rabu, 7 Oktober 2026
Kajen - Suasana berbeda terasa di halaman Pendopo Rumah Dinas Bupati Pekalongan, Senin malam (5/10/2026). Ribuan masyarakat berkumpul untuk nonton bareng (nobar) final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia melawan Thailand.
Sejak sebelum pertandingan dimulai, suasana sudah terasa meriah. Plt. Bupati Pekalongan H. Sukirman, S.S., M.S., bahkan sempat melontarkan candaan saat hendak memutar cuplikan gol Ole Romeny. Namun, video yang muncul justru rekaman dirinya saat mengikuti lomba sepak bola mini pada Agustus lalu.
“Baiklah, mari kita tonton bersama pertandingan kali ini. Semoga Indonesia mendapatkan hasil terbaik. Ada pendukung Thailand di sini, kalau saya tetap Argentina,” canda Sukirman yang langsung disambut tawa masyarakat.
Seperti nobar sebelumnya, Sukirman memilih duduk lesehan dan berbaur bersama masyarakat. Mereka bersama-sama memberikan dukungan kepada Timnas Indonesia yang memburu gelar juara ASEAN setelah terakhir kali meraihnya pada 1991.
Pertandingan berlangsung ketat. Babak pertama berakhir tanpa gol. Memasuki babak kedua, jual beli serangan terjadi. Indonesia akhirnya mendapat keuntungan pada menit ke-81 setelah Ole Romeny dilanggar Nicholas Mickelson di dekat kotak penalti. Kartu kuning kedua membuat pemain Thailand tersebut harus mandi lebih awal.
Unggul jumlah pemain, Indonesia membuka keunggulan pada menit ke-84 melalui Dean James. Namun, keunggulan itu hanya bertahan tiga menit setelah Thailand menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron pada menit ke-87.
Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir dan pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Thailand kembali membuat suporter Indonesia terdiam pada menit ke-111 setelah Peeradol Chamratsamee memanfaatkan kesalahan Elkan Baggott. Namun, Baggott membayar kesalahannya dengan mencetak gol pada menit ke-116 melalui umpan cut back Rizky Ridho, yang diawali intersep Egy Maulana Vikri.
Skor 2-2 bertahan hingga perpanjangan waktu berakhir. Pertandingan pun harus ditentukan lewat adu penalti.
Drama akhirnya berpihak kepada Indonesia. Seluruh eksekutor Indonesia sukses menjalankan tugasnya. Penjaga gawang Emil Audero juga tampil gemilang dengan menggagalkan penalti Nattapong Satriya, sementara tendangan Sarach Yooyen membentur mistar.
Indonesia pun memastikan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 untuk pertama kalinya sekaligus kembali menjadi raja Asia Tenggara setelah 35 tahun puasa gelar.
Kemenangan itu disambut tangis haru dan kebahagiaan para suporter di halaman pendopo. Majid, warga Wonopringgo, mengaku bangga bisa menyaksikan langsung momen bersejarah tersebut.
“Senang dong, Mas, karena Timnas menang. Terima kasih Pemerintah Kabupaten Pekalongan sudah menggelar nobar. Ditunggu nobar-nobar selanjutnya,” ujarnya.
Selasa, 6 Oktober 2026