Admin
Rabu, 29 April 2026


Kajen - Pemerintah Kabupaten Pekalongan meluncurkan program Sekolah Lapang Iklim Kopi sebagai upaya meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Kegiatan ini digelar di La Ranch, Desa Limbangan, Kecamatan Karanganyar, Rabu (29/04/2026), dan menjadi bagian dari strategi penguatan sektor kopi lokal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., mengatakan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem berdampak langsung pada produktivitas tanaman kopi. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan mengenali karakter tanaman, sehingga hasil produksi mengalami penurunan.
“Perubahan iklim membuat petani kesulitan mendeteksi karakter tanaman kopi, sehingga berdampak pada penurunan produksi,” ujarnya.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Bank Indonesia, Mercy Corps, serta Rumah BUMN. Pelatihan dirancang secara intensif melalui pembagian kelas dan praktik lapangan guna meningkatkan pemahaman serta keterampilan petani.
Selain faktor iklim, sejumlah kendala lain juga dihadapi petani, di antaranya keterbatasan fasilitas, sumber daya manusia (SDM), serta akses pemasaran. Saat ini, luas lahan kopi di Kabupaten Pekalongan tercatat sekitar 16 hektare yang tersebar di Desa Sengare dan Jolotigo.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan, Dra. Siti Masruroh, M.Si., menyampaikan salam laporannya bahwa program ini juga bertujuan membangun komitmen lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga keuangan, mitra swasta, dan perguruan tinggi.
“Program ini mendorong kesadaran petani terhadap pentingnya adaptasi iklim, sekaligus meningkatkan keterampilan melalui pelatihan budidaya kopi adaptif dan teknologi pascapanen,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, kegiatan ini dilengkapi dengan metode pembelajaran seperti blind coffee testing dan diskusi reflektif, serta diarahkan untuk membuka akses pasar ekspor melalui kemitraan dengan eksportir.
Sekolah Lapang Iklim Kopi dijadwalkan berlangsung enam kali pertemuan. Kegiatan perdana dilaksanakan pada 29 April 2026 di Lumbung Kopi Nusantara, dilanjutkan lima pertemuan di Desa Jolotigo pada 9 Juni hingga 4 Agustus 2026. Program ini diikuti 30 peserta, masing-masing 15 petani dari Desa Sengare dan Jolotigo.
Sejumlah narasumber turut dilibatkan, antara lain dari BMKG Jawa Tengah, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, serta dukungan dari Zurich Insurance dan sektor perbankan.
Sementara itu, petani kopi asal Desa Jolotigo, Nadhirin, menilai potensi kopi lokal sangat besar untuk dikembangkan sebagai identitas daerah. Namun, ia mengakui masih adanya keterbatasan, terutama dalam hal SDM, infrastruktur, dan teknologi.
“Kami masih membutuhkan dukungan, mulai dari pembibitan hingga peralatan seperti mesin roasting dan alat uji cita rasa,” ujarnya.
Pemerintah berharap program ini dapat berjalan berkelanjutan dan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di wilayah lain, guna meningkatkan produksi, kualitas, serta kesejahteraan petani kopi di Kabupaten Pekalongan.