Admin
Jumat, 9 Oktober 2026
Kajen - Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan digelar di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Kamis (8/10/2026). Pelaksanaan tersebut menjadi bagian dari uji coba yang dilakukan untuk melihat efektivitas sistem penyajian makanan MBG di sekolah.
Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, mengatakan pihaknya siap menjalankan uji coba tersebut sesuai arahan BGN. Menurutnya, respons siswa terhadap model prasmanan sejauh ini cukup positif.
“Kalau kesiapan, yang jelas selama BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, ya kami pasti siap,” kata Andung.
Ia menyebut siswa cenderung lebih menyukai sistem prasmanan karena makanan dapat disantap dalam kondisi hangat dan porsi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
“Yang kedua, respons anak. Sejauh ini memang lebih menyukai yang prasmanan. Karena mungkin masih hangat, terus kemudian porsinya bisa disesuaikan,” ujarnya.
Andung menjelaskan, uji coba tersebut telah berlangsung sejak Senin dan pada Kamis memasuki hari keempat. Evaluasi terhadap pelaksanaan, termasuk kendala yang ditemukan, akan dilakukan hingga pekan berikutnya sebelum hasilnya dilaporkan kepada BGN.
“Kemudian setelah nanti kita laporkan ke BGN, BGN memutuskan apakah mau seperti ini atau kembali ke metode lama, itu kami kembalikan lagi ke BGN,” katanya.
Menurutnya, sistem prasmanan juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan dalam pelaksanaan MBG. Untuk Kabupaten Pekalongan, SMP Negeri 2 Karanganyar menjadi sekolah yang ditunjuk dalam piloting tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, menilai pelaksanaan MBG dengan sistem prasmanan mendapat respons positif dari siswa.
“Jadi dengan adanya MBG prasmanan ini, luar biasa, artinya luar biasa itu, betul-betul anak-anak, kita juga melihat sendiri ya, mengambil menu MBG masih hangat, masih fresh,” kata Kholid.
Ia menyebut partisipasi siswa terlihat tinggi dan makanan yang disediakan hampir seluruhnya habis. Kholid berharap sistem serupa dapat diterapkan di sekolah lain dengan koordinasi yang baik antara satuan pendidikan dan SPPG.
“Saya melihat sendiri tadi ya, itu antusiasnya lebih-lebih daripada yang menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencoba menu MBG yang disajikan. Ia mengatakan makanan, mulai dari nasi, sayur hingga telur, masih dalam kondisi hangat.
“Lalu tadi kami mencoba menu makanannya. Kita pegang hangat semua, dari nasinya, dari sayurnya, dari telurnya. Rasanya sudah seperti kita makan di orang tua memasak atau yang ada di rumah makan,” katanya.
Respons positif juga disampaikan salah seorang siswa. Saat ditanya mengenai perbandingan makan menggunakan ompreng dan prasmanan, siswa tersebut memilih sistem prasmanan.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi.
Ketika ditanya alasannya, Novi mengatakan makanan yang disajikan melalui sistem prasmanan terasa lebih segar dan nasinya lebih hangat.
“Yang prasmanan,” katanya saat kembali ditanya mengenai pilihan antara sistem ompreng dan prasmanan.
Siswa SMPN 2 Karanganyar Lebih Suka MBG Prasmanan, Nasi Masih Hangat saat Disantap
Kajen – Pengalaman menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, terasa berbeda. Melalui sistem prasmanan, siswa bisa mengambil makanan secara langsung dengan kondisi yang masih hangat. Metode ini pun mendapat sambutan positif dari para siswa.
Salah seorang siswa, Novi, mengaku lebih menyukai sistem prasmanan dibandingkan penyajian menggunakan ompreng. Menurutnya, makanan terasa lebih segar, terutama karena nasi masih hangat saat diambil.
“Lebih enak, Pak,” jawab Novi saat ditanya mengenai pilihannya antara sistem prasmanan dan ompreng.
Respons tersebut sejalan dengan pengamatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, yang melihat langsung antusiasme siswa saat mengambil makanan.
Menurut Kholid, siswa terlihat bersemangat menikmati menu MBG yang disajikan. Bahkan, makanan yang tersedia hampir seluruhnya habis.
“Saya melihat sendiri tadi, antusiasmenya lebih tinggi dibandingkan saat menggunakan ompreng,” ujarnya.
Kholid juga turut mencicipi menu yang disediakan, mulai dari nasi, sayur, hingga telur. Ia menilai makanan tersebut masih dalam kondisi hangat saat disajikan kepada siswa.
Ia berharap sistem prasmanan bisa menjadi alternatif penyajian MBG di sekolah lain. Meski demikian, penerapannya perlu didukung koordinasi yang baik antara pihak sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sementara itu, mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, menjelaskan bahwa penerapan sistem prasmanan di SMP Negeri 2 Karanganyar masih dalam tahap uji coba.
Uji coba yang dimulai sejak Senin tersebut memasuki hari keempat pada Kamis (8/10/2026). Selama pelaksanaan, pihaknya melakukan evaluasi terhadap respons siswa maupun kendala yang muncul di lapangan.
Andung mengatakan hasil evaluasi akan dilaporkan kepada BGN untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan metode penyajian MBG selanjutnya.
“Kalau BGN meminta dan memerintahkan kami untuk melaksanakan program ini, kami pasti siap,” katanya.
Ia menambahkan, sistem prasmanan diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan MBG, termasuk meminimalkan risiko kejadian luar biasa (KLB) maupun keracunan.
Melalui uji coba ini, pengalaman siswa saat menikmati makanan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam evaluasi. Hasilnya diharapkan dapat membantu menentukan metode penyajian yang tepat agar program MBG berjalan optimal di sekolah.