KAJEN - Kantor Pertanahan atau BPN Kabupaten Pekalongan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, terutama dalam pelayanan pendaftaran untuk pensertipikatan tanah hak milik mereka. Tahun ini, rencananya ada sebanyak 44.000 bidang tanah yang akan digarap agar bisa menjadi sertipikat.
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan kantor pertanahan setempat dalam rangka merealisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) secara berkelanjutan.
Dengan adanya program tersebut, Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, SH.M.Si berharap kepada semua pihak untuk mendukungnya. Terutama para kepala desa yang belum lama ini dilantik supaya bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
''Hampir kepala desa ini baru, sehingga belum berpengalaman mengelola PTSL. Untuk itu tolong bisa mengikuti sosialisasi PTSL dengan baik supaya bisa menjalankan aturan main yang berlaku sehingga seluruh desa tetap kondusif,'' ujar dia usai menghadiri dan membuka sosialisasi program PTSL yang digelar di ballroom Hotel Daffam Pekalongan, Rabu (15/1/2020) pagi.
Bupati menegaskan, jangan sampai dalam menjalankan PTSL, ada kepala desa yang ''ngemplang'' dan jika sampai ketahuan maka hukumannya berat.
"Ada satu atau dua orang yang datang dan komplain ke Pemkab Pekalongan. Mereka kemudian dijelaskan bahwa diluar ketentuan yang sudah dirumuskan oleh peraturan perundang-undangan biasanya diselesaikan secara musyawarah di tingkat desa. Sebab hal itu urusan kepala desa, perangkat desa, dan warga. Sedangkan pemerintah kabupaten hanya memonitor agar hasil musyawarah bersendikan kepada nilai-nilai keadilan atau tidak memberatkan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan, Sudjarno menjelaskan dari 44.000 bidang tanah yang didaftarkan di program PTSL, berada di 48 desa dan 15 Kecamatan. Meliputi Kecamatan Wonopringgo, Petungkriyono, Tirto, Bojong, Buaran, Doro, Kajen, Kedungwuni, Paninggaran, Siwalan, Sragi, Talun, Wiradesa, Wonokerto, dan Kandangserang. Untuk tahun ini, ada peningkatan target sekitar 4.000 bidang tanah yang didaftarkan karena tahun sebelumnya jumlah bidang tanah yang ditargetkan 40.000.
''Tahun 2019, hanya terealisasi sekitar 32.654 sertifikat. Belum tercapainya target tersebut karena ada beberapa kendala,'' katanya.
Diantaranya banyak masyarakat yang enggan atau tidak mau ikut. Kemudian cukup banyak juga masyarakat yang menjadi perantauan dan persyaratan untuk pendaftaran tanahnya belum lengkap. Agar tahun 2020 bisa mencapai target maka Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan berupaya untuk merealisasikannya dengan baik.
Langkah awal yang di dilakukan guna merealisasikan program kerjanya tersebut dengan melantik dan mengambil sumpah Panitia Ajudikasi PTSL. Panitia ini terdiri dari pejabat kantor pertanahan dan kepala desa yang menjadi sasaran program PTSL.
Makanya setelah dilantik, para kepala desa setelah mengikuti sosialisasi nantinya akan memberikan penyuluhan ke warganya.
Program PTSL ini merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi semua objek pendaftaran tanah di seluruh tanah air. Karena sudah menjadi program nasional, maka perlu adanya dukungan dari semua pihak perlu baik dari pemerintah, kepolisian, TNI, dan kejaksaan. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 56 TAHUN 2019 TENTANG PETUNJUK PELAKSAAN PERDA JATENG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
KAJEN - Mulai tahun 2020, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pekalongan diwajibkan untuk mengenakan sarung batik dan baju koko lengan pendek. “Ini ada kegiatan penggunaan busana baju koko, sarung batik khas Pekalongan dan berpeci. Ini serius tapi santai. Maknanya apa? Karena budaya pesisiran dan batik menjadi trendmark Kabupaten Pekalongan dan memang menjadi daerah penghasil batik terbesar di Indonesia bahkan di dunia,” terang Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si sesaat sebelum acara pengajian rutin setiap hari Jumat Kliwon, Jum’at (10/01/2020) pagi di Aula Lantai I Setda Kabupaten Pekalongan.
“Selanjutnya, baju koko mencerminkan proses akulturasi budaya, antara budaya Jawa, Cina dan Islam. Bahasa lain disebut baju takwa. Artinya ketika mengenakan baju takwa ini setidaknya ada simbol yang harus terpatri dalam jiwa pemakainya yaitu untuk selalu bertaqwa kepada Alloh SWT. Itu dipakai setiap hari Jumat,” tegas bupati.
KAJEN – Jum’at (10/01/2020) sejak jam 07.30 Wib bertempat di Pantai Api-Api Kecamatan Wonokerto, Polres Pekalongan bersama masyarakat setempat melaksanakan penanaman 5.180 bibit pohon Mangrove.
Acara diawali dengan Apel yang dipimpin oleh Kapolres Pekalongan AKBP Aris Tri Yunarko, S.IK, M.Si. Diikuti Wakapolres Kompol H. Mashudi, SH dan seluruh jajaran Polres Pekalongan dan Polsek se Kabupaten Pekalongan.
Aksi penghijauan dengan penanaman 5.180 bibit pohon Mangrove dipimpin Kapolres Pekalongan AKBP Aris Tri Yunarko, S.IK., M.Si, bersama Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si yang diwakili Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM., diikuti Pejabat Utama Polres, Dandim 0710 Pekalongan diwakili Danramil Wiradesa Kapten Cpm Hadi Wahyudi, Kadin Perkim dan LH Trinanto Agus Maryono, Kapolsek Wiradesa, Personil Polres dan Polsek jajaran, Bhayangkari cabang Polres Pekalongan, serta warga sekitar.
KAJEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan mengawali aktivitas rohaniyah pada tahun 2020 ini dengan menggelar pengajian. Kegiatan digelar di Aula Lantai 1 Gedung Setda, Jum’at (10/1/2020). Pengajian diikuti oleh seluruh ASN di lingkungan Pemkab Pekalongan.
Pengajian yang digelar perdana pada tahun ini menghadirkan pembicara KH. Muhammad Dzilqon yang merupakan Pengasuh Pondok Pesentren Al Fusha, Rowocacing, Kedungwuni. Pengajian dijadwalkan akan digelar secara rutin, setiap Jum’at Kliwon.
Bupati Pekalongan, K.H. Asip Kholbihi, SH, M.Si dalam sambutan kegiatan tersebut mengutarakan, pengajian digelar sebagai ikhtiar Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadikan aparaturnya sebagai pelayan umat yang baik. “Tahun 2020 ini harus beda. Orang yang ingin baik, harus lebih barik dari tahun kemarin. Maka hal-hal yang perlu kita tingkatkan, kita tingkatkan,” pinta Bupati.
Menurut Bupati, ada beberapa cara agar kita menjadi lebih baik. Yang pertama, disebutkan bupati, jadilah seperti kiai. “Mondoknya lama, tirakatnya lama. Tapi ini langka. Sedikit yang bisa seperti kiai. Dari Pondok Pesantren, hanya 10 hingga 30 persen, sisanya menjadi orang biasa,” kata Bupati.
KAJEN - Menindaklanjuti disposisi Bupati Pekalongan pada nota dinas nomor 065.5/03 tanggal 3 Januari 2020 tentang penggunaan pakaian dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan.
Pemkab Pekalongan, Jawa Tengah mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) untuk memakai sarung batik setiap hari Jumat.
Sekertaris Daerah Kabupaten Pekalongan Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM mengatakan tujuan pemakaian sarung batik bagi ASN ini, sebagai upaya melestarikan kerajinan batik dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
"Pemakaian sarung batik ini sama persis kayak Kota Pekalongan. Tapi yang paling penting yaitu untuk nguri-nguri budaya," kata Sekda Mukaromah Syakoer, Kamis (9/1/2020). Menurutnya, pemakaian sarung batik ini mulai diterapkan pada besok Jumat (10/1/2020).
Mukaromah mengungkapkan pakaian dinas sebelumnya, untuk pria menggunakan baju koko warna putih, celana hitam. Sedangkan, wanita menggunakan atasan berwarna putih dan rok hitam.
KAJEN - Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, SH.,M.IP meresmikan 3 jembatan secara bersamaan, yakni Jembatan Kesesi di Desa Kesesi Kecamatan Kesesi dan Jembatan Kali Keruh di Desa Luragung Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan, serta Jembatan Polaga di Desa Pasir Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang pada Selasa (07/01/20) pagi. Perersmian dipusatkan di Jembatan Kesesi Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan.
Kunjungan Gubernur didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah serta jajarannya, diterima langsung oleh Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si., Wakil Bupati Ir. Hj. Arini Harimurti, Ketua DPRD Dra. Hj. Hindun, MH., Kapolres Pekalongan AKBP Aris Tri Yunarko, S.IK.,M.Si., Dandim 0710 Pekalongan Letkol Inf. Arfan Johan Wihananto, S.IP.,MMS serta unsur Forkopimda lainnya. Tampak juga Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM beserta para Kepala Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Pekalongan.
KAJEN - Awal Tahun 2020 warga Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah sudah bisa menikmati suasana desa tanpa banjir.
"Dulu, setiap memasuki tahun baru, warga Desa Jeruksari merasakan kesedihan karena kondisi jalan, balai desa, dan rumah terendam air. Namun, Januari awal tahun 2020 masyarakat Desa Jeruksari sudah bisa tertawa karena kondisi desa saat ini sudah tidak dilanda banjir," kata Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.M.Si saat meninjau kondisi Desa Jeruksari, Sabtu (4/1/2020).
Menurutnya adanya tanggul penahan rob bisa mengurangi banjir maupun rob di pesisir utara Kabupaten Pekalongan. "Ada sedikit genangan air di beberapa titik Jalan Desa Jeruksari. Tapi, ini bukan karena rob melainkan air hujan, karena beberapa hari ini intensitas hujan di Kabupaten Pekalongan tinggi," ungkapnya.
Asip mengungkapkan mudah-mudahan banjir yang ada di Desa Jeruksari sudah berakhir. Tapi, pihaknya menekankan untuk masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan mitigasi bencana.
KAJEN – Menindaklanjuti perintah Gubernur Jateng untuk meningkatkan kewaspadaan bencana banjir dengan melakukan cek langsung ke lapangan, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.M.Si, melakukan peninjauan wilayah rawan banjir di Kecamatan Tirto, Sabtu (4/1/2020) sore.
Dengan didampingi Kepala DPU Taru Ir. Bambang Irianto, M.Si., Camat Tirto Agus Dwi Nugroho, S.STP beserta Muspika dan para Kades terkait, Bupati Pekalongan meninjau di Desa Pacar, Desa Tegaldowo, Desa Mulyorejo dan Desa Jeruksari.
"Desa Pacar yang ada di Kecamatan Tirto dan berada di dekat Pantura berpotensi banjir, akibat meluapnya Sungai Miduri. Apalagi, intensitas hujan di Kabupaten Pekalongan meningkat. Oleh karena itu, kami ingin melihat kondisi di desa ini," kata Bupati KH. Asip.
Selasa, 14 Januari 2020
“Untuk setiap hari Jumat Kliwon, karena masyarakat Kabupaten Pekalongan punya persepsi sendiri terhadap hari Jumat kliwon, maka diadakan pengajian rutin Kliwonan diselenggarakan di Aula Setda dengan tujuan untuk bersama-sama bagaimana cara kita menjadi pelayan yang lebih baik bagi masyarakat, menjadi pribadi-pribadi yang menjiwai tugas pokok dan fungsinya sebagai ASN sekaligus memperkaya khasanah tentang khikmah yang dilaksanakan. hikmah itu adalah pengabdian bekerja diluar jam kerja. Dedikasi waktu yang diberikan diluar jam kerja itu bermakna khikmah”, lanjutnya.
Menurut Bupati dengan seragam ini untuk memanfaatkan local wisdom tata berpakaian pada umumnya masyarakat serta dalam rangka lebih menggairahkan pasar sarung batik dan koko yang banyak produksi di Kabupaten Pekalongan. “Saya berharap kalau kita mengenakan sarung batik dan baju koko yang merupakan produk dari Kabupaten Pekalongan yang selama ini penyuplai sebagian pasar-pasar di nusantara yang diproduksi oleh ribuan perajin yang ada di Kabupaten Pekalongan, maka kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat. (Red)
Kapolres Pekalongan mengatakan bahwa sebelumnya program serupa telah dilaksanakan pada bulan November lalu. Dan penanaman pohon kali ini merupakan program lanjutan dari penanaman pada bulan November sebelumya yaitu sebanyak 163 bibit pohon.
Lebih lanjut, AKBP Aris menerangkan bahwa agenda yang juga termasuk dalam program “Polda Jateng Go Green” ini bertujuan untuk menciptakan kelestarian penghijauan lingkungan serta untuk mengurangi dampak abrasi gelombang laut.
“Aksi peduli lingkungan ini dalam rangka mendukung Program Go Green untuk satu juta pohon di Jawa Tengah. Untuk Polres Pekalongan melakukan penanaman pohon mangrove di tiga titik yang berbeda yakni di pantai Asri Api-api Kecamatan Wonokerto ini sebanyak 5.000 bibit pohon mangrove,” ujar Kapolres.
“Kemudian yang kedua di Mako Polsek Kesesi sebanyak 120 bibit pohon yang terdiri dari 25 Pohon Duren, 25 Pohon Jambu, 50 Pohon Alpukat, 12 Pohon Pucuk merah dan 8 Pohon kemuning. Dan untuk lokasi ketiga di Mako Polsek Kajen sebanyak 60 bibit pohon yang terdiri dari 40 pohon Alpukat dan 20 Pohon Durian,” imbuhnya.
Sementara itu Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si melalui Sekda Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM mengucapkan terima kasih kepada jajaran Polres Pekalongan dengan aksinya menanam pohon mangrove di pantai Api-Api Wonokerto dan wilayah lainnya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolres Pekalongan beserta jajarannya atas gerakan hari ini dalam rangka penghijauan Pantai Api-Api ini guna meminimalisir karena kondisi Pantai ini abrasinya sudah mulai meluas,” ujar Sekda.
“Dan saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan untuk senantiasa menjaga lingkungannya agar semakin baik. Tolong buang sampah pada tempatnya, kemudian tanam tanaman tidak harus menunggu yang seremonial seperti hari ini. Mohon kesadarannya untuk menanam pohon seperti di pantai ini,” imbuh Sekda. (didik/dinkominfo kab,pekalongan)
Cara yang kedua, lanjutnya, yakni menjadi santri. “Pak Kiai Dzilqon jadi kiainya, kita jadi santrinya,” ujar Bupati.
Cara yang ke tiga, yakni, menjadi pendengar atau menjadi orang yang mencintai, alim ulama, orang sholeh maupun cerdik pandai.
Melalui pengajian pagi itu, Bupati berharap, dirinya dan para ASN bisa menjadi khodimul ummah atau pelayan masyarakat yang betul-betul baik hati, bekerja dengan ikhlas, sehingga hasilnya bisa betul-betul dirasakan masyarakat.
“Jika proses ini berjalan, insya allah Kabupaten Pekalongan ini akan menjadi kabupaten yang hebat dan berkah, kabupaten yang masyarakatnya sejahtera, generasi kita diselamatkan dari hal-hal yang tidak diinginkan dan Pemerintahnya dalam menjalankan tugas, diselamatkan dunia dan akhirat, amin,” ungkap Bupati.
Bupati menyayangkan jika ada golongan yang membenci terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keilmuan, kebaikan, dan kesolehan. Oleh karena itu, Bupati mengajak kepada para ASN untuk mengikuti pengajian, mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh para kiai dan alim ulama.
“Agar proses kehidupan kita seimbang. Kadang-kadang ada hal-hal yang kontradiktif. Sehari saja kita makan tiga kali, pengajian hanya kliwonan saja. Padahal kebutuhan jasmani dan rohani harusnya seimbang. Tapi saya percaya, Bapak Ibu sekalian memanfaatkan berbagai media untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat,” tutur Bupati.
Sementara itu, K.H. Dzilqon, dalam tausiyahnya menyampaikan antara lain mengenai hikmat dan ajakan agar masyarakat mematuhi Ulil Amri atau Pemerintah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an.
Terkait hal tersebut, Bupati Asip Kholbihi dalam wawancara kepada Humas Pemkab Pekalongan dan sejumlah awak media menyampaikan bahwa ASN di Kabupaten Pekalongan sudah terbiasa bekerja hingga di luar jam kerja sebagai bentuk hikmat terhadap tanggung jawab kerja dan tanggung jawab sebagai pengemban amanah masyarakat.
Menurut Bupati, tugas pemerintahan adalah tugas yg mulia dan dalam Al Qur’an disebutkan ajakan agar menaati Pemerintah, sepanjang yang tidak mengajak kepada hal-hal yang maksiat. Ini hukumnya wajib, karena jika tidak ada pemerintah, rusak semua, tidak ada yang bisa menjalankan ibadah dengan baik dan aman,” terang Bupati.*) Tim Bidang Kehumasan Dinkominfo Kabupaten Pekalongan
"Pakaian dinas yang baru ini untuk pria yaitu baju koko warna putih, bawahan sarung batik, peci hitam, dan sepatu atau sandal selop. Kemudian, untuk wanita baju berwarna putih, bawahnya kain batik, sepatu, atau sandal selop," ungkapnya.
Saat disinggung, apabila ada ASN yang tidak menggunakan pakaian dinas sarung batik, pihaknya akan memaklumi. "Surat edaran penggunaan sarung batik kan baru sore tadi, jika besok ada ASN yang belum menggunakan saya maklumi. Tapi, untuk Jumat yang akan datang semua ASN harus wajib menggunakan pakaian dinas yang baru ini," tambahnya. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Gubernur Ganjar berharap dengan dibangunnya ketiga jembatan tersebut mudah mudahan bisa membantu kelancaran transportasi serta meningkatkan perekonomian masyarakat. “Namun ini tidak ada artinya kalau kita tidak merawat. Sampahnya, tamannya juga konstruksinya agar dijaga betul. Mudah-mudahan apa yang dikerjakan kontraktor bagus. Sehingga kita akan diuji langsung di musim hujan yang curahnya cukup tinggi, dan kita harapkan masyarakat bareng-bareng membantu”, tuturnya
“Masyarakat saya pesan jangan buang sampah di sungai, dikelola dengan baik, agar tidak menimbulkan persoalan baru nantinya”, imbuhnya
Menjawab pertanyaan seputar penanganan bencana di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar mengungkapkan bahwa ritmenya sudah mulai kelihatan, misal menjelang kemarau apa yang harus dilakukan, demikian juga menjelang musim penghujan apa yang harus dilakukan. “Sekarang tinggal kita mendistribusikan seluruh informasi yang paling actual. Kita ada bencana di hampir setiap kabupaten/kota, kita dilapori tiap hari dan kita tangani. Kemarin kita mengirimkan bantuan logistik ke DKI Jakarta, Jabar dan juga Banten”, tambahnya.
Sementara itu Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi SH.M.Si yang mendampingi Gubernur menyatakan bahwa jembatan Kalikeruh Luragung Kecamatan Kandangserang sudah diresmikan oleh Bapak Gubernur karena sumber pendanaannya adalah dari Propinsi dengan nilai kontrak proyek sebesar 14, 6 milyar.
“Dulu jembatan ini roboh/runtuh karena salah satu penyebabnya adalah penambangan pasir liar. Oleh karena itu saya menghimbau kepada seluruh masyarakat, tolong jangan menambang pasir atau batu dekat jembatan”, tutur Bupati Asip
Dalam kesempatan tersebut Bupati menghimbau kepada kades, camat, agar memberi tahu masyarakat jangan sampai terulang kembali melakukan penambangan liar. “Ini beban berat bagi sebagian masyarakat akibat robohnya jembatan ini, antara lain banyak guru yang berdomisili di wilayah Kabupaten Pekalongan mengajar di Kabupaten Pemalang,” terang Bupati.
Selanjutnya, menurut bupati yang paling penting, sesuai dengan pesan dari Gubernur yang menitipkan agar jembatan Kali Keruh untuk dijaga dan dirawat karena menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit jumlahnya. “Mudah-mudahan semua warga Luragung yang nyambung dengan jembatan ini, ekonominya lancar, tinggal penerangannya nanti kita buat”, pungkasnya. (red)
"Apabila terjadi sesuatu, aparatur dari desa, camat, hingga pemkab sudah siap dalam menghadapi bencana," jelasnya.
Menurut Bupati KH. Asip saat ini pemerintah akan menata drainase yang ada di Desa Jeruksari. "Semua drainase tidak boleh ada bangunan, jika ada bangunan dibersihkan. Hal ini, untuk menata kawasan ini agar tidak terjadi banjir kembali," tuturnya.
Sementara itu, Kades Jeruksari Budiharto menceritakan berkat adanya tanggul penahan rob, Desa Jeruksari tidak mengalami kebanjiran. "Dulu pada saat banjir dan setiap tahun baru warga Desa Jeruksari selalu ditemani banjir, namun sekarang alhamdulilah tidak banjir lagi. Bahkan, dulu warga Jeruksari setiap bulan belinya jajan sertu atau tanah untuk meninggikan rumahnya. Tahun 2020, sudah bisa beli jajan bakso," ungkapnya.
Pihaknya berharap semoga Desa Jeruksari terhindar dari bencana banjir pasca adanya tanggul penahan rob. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)
Dikatakan, ketika musim hujan desa ini selalu menjadi langganan banjir. Sehingga, Pemerintah Kabupaten Pekalongan sedang membuat rekayasa agar Desa Pacar tidak menjadi langganan banjir. "Daya tampung Sungai Miduri ketika musim hujan sudah over, kemudian pembuangan dari desa-desa sekitar juga mempengaruhi. Oleh karenanya, kita membutuhkan treatment khusus untuk menangani bencana ini," ungkapnya.
Bupati KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si menyampaikan kondisi saat ini di Kabupaten Pekalongan masih aman. Bahkan, pada saat mengecek tanggul dan pompa penyedot air sudah befungsi dengan baik. "Memang ada genangan air tapi tidak tinggi seperti tahun 2019. Walaupun ada banjir tapi sedikit, ini menjadi konsen pemerintah untuk menanggulanginya. Mudah-mudahan tahun ini Kabupaten Pekalongan sudah tidak terkena banjir lagi," tambahnya.
Terpisah, Imron perangkat Desa Pacar mengatakan ada 62 rumah yang menjadi korban banjir. Menurutnya, banjir ini disebabkan karena curah hujan di Kabupaten Pekalongan yang tinggi. "Kondisi saat ini warga resah dan terganggu aktifitasnya. Bahkan untuk makan dan minum warga membeli. Kemudian, rata-rata ketinggian air di dalam rumah mencapai 40 cm," ungkapnya.
Imron menambahkan warga berharap ada penambahan pompa untuk mengurangi debit air, karena pompa yang dimiliki saat ini kondisinya rusak. (didik/dinkominfo kab.pekalongan)